Rabu, 10 Oktober 2012

SEKOLAH DASAR SEBAGAI INVESTASI PENDIDIKAN KARAKTER


Guru (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah "berat") adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Secara umum Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) merupakan prodi yang dirancang untuk menghasilkan guru SD yang professional, berwawasan luas, serta memiliki keunggulan dan ketrampilan agar dapat menghasilkan anak bangsa yang berkualitas dan berkarakter. Dalam kontribusinya, guru SD (Sekolah Dasar) berperan besar terhadap pembangunan karakter peserta didik. Pendidikan Sekolah Dasar yang dijalani selama enam dapat dijadikan sebagai periode investasi peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan karakter yang diterapkan oleh guru.
Dalam kenyataannya kasus-kasus penyimpangan yang dilakukan para pelajar saat ini semakin menjadi-jadi. Seperti misalnya tawuran antar pelajar. Bahkan beberapa waktu lalu terjadi tawuran antar pelajar SD. Seperti yang diberitakan KOMPAS.com berikut ini.ni.
BOGOR, KOMPAS.com — Kualitas dan kuantitas perkelahian antarpelajar atau tawuran di Kota Bogor, Jawa Barat, meningkat hingga menyebabkan setidaknya dua pelajar menjadi korban setiap bulan. Bahkan, ada kecenderungan pelajar sekolah menengah pertama dan sekolah dasar ikut terlibat.
Data dari Satuan Tugas Pelajar Dinas Pendidikan Kota Bogor menunjukkan, selama kurun waktu 2008-2012, setidaknya 93 pelajar SMP, SMA, dan SMK menjadi korban perkelahian atau tawuran. Dari jumlah itu, sebanyak 10 pelajar tewas, 4 cacat, dan sisanya luka berat serta luka ringan.
"Sekarang ada kecenderungan merembet. Kalau pada awal satuan tugas terbentuk 12 tahun lalu mayoritas perkelahian di SMK, sekarang ada yang SMP, malah belakangan ini SD," tutur TB Muhamad Ruchjani, Ketua Harian Satuan Tugas Pelajar Dinas Pendidikan Kota Bogor, Selasa (6/3/2012).
Beberapa waktu lalu, Satuan Tugas Pelajar Dinas Pendidikan Kota Bogor bahkan menemukan siswa SD yang membawa gir (dasar roda gigi) di tas.
"Anak SMP dan SD belajar dari perilaku senior-senior mereka. Lalu, ada regenerasi tawuran dan kekerasan," kata Ruchjani.
Berdasarkan pendataan Dinas Pendidikan Kota Bogor, mayoritas perkelahian pelajar berupa pencegatan siswa sekolah tertentu terhadap siswa sekolah lain.
Dalam empat tahun terakhir, kasus perkelahian pelajar yang terjadi di SMK mencapai 80 kasus (5 tawuran, 75 pencegatan), sedangkan yang melibatkan siswa SMP sebanyak 18 kasus (2 tawuran, 16 pencegatan).
Siswa SMP yang mengalami luka-luka mencapai 16 orang, sedangkan siswa SMA yang terluka tercatat 14 orang. Korban luka terbanyak adalah siswa SMK, yaitu 63 orang, dan 10 orang di antaranya tewas.
Namun, Ruchjani berkeyakinan, data tersebut jauh lebih sedikit daripada realitasnya.
Beberapa siswa yang terlibat perkelahian antarpelajar yang terjaring razia dan diamankan polisi dalam beberapa kejadian kerap mengaku tidak mengetahui akar permusuhan antarsekolah.
Siswa yang ditanyai Kompas mengaku hanya disuruh oleh para senior, termasuk alumnus atau yang dipecat dari sekolah mereka.
Adanya kasus ini membuktikan bahwa anak-anak mudah terhasut oleh pengaruh gengsi dan takut dikucilkan. Kasus-kasus seperti ini juga bisa jadi disebabkan karena sikap para pelajar yang mau menang sendiri dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Perilaku seperti ini jika dibiasakan sejak dini maka akan membuat seseorang menjadi karakter yang emosional, egois, tidak memiliki rasa tanggung jawab, dll. Apabila anak-anak tidak dididik secara baik, maka jika sudah remaja atau pun dewasa sulit untuk diperbaiki.
Untuk itu, di masa anak-anak (SD) perlu diterapkan pembelajaran yang melatih karakter positif. Karena di masa itu, anak-anak lebih mudah dilatih untuk membentuk pribadi dan karakter yang kelak dimiliki oleh seseorang. Di saat itulah peran guru SD sangat penting dalam membangun karakter. Dalam realitanya, guru SD bagaikan dewa bagi peserta didik. Nasihat guru lebih didengarkan daripada nasihat orang tua.
Namun dewasa ini para orang tua sudah mulai cerdas dalam memilih lembaga pendidikan (sekolah) untuk anak-anaknya. Para orang tua sudah menyadari bahwa pendidikan karakter di SD lebih efektif. Mereka lebih memilih sekolah-sekolah dengan memiliki program yang lebih. Misalkan ada ekstrakurikuler untuk mengembangkan minat dan bakat peserta didik, adanya tambahan pendidikan agama untuk meningkatkan religiusitas peserta didik. Oleh karena itu, guru SD juga harus memiliki ilmu pendidikan yang memadai, memiliki keunggulan, kreatif, dan dapat memotifasi peserta didik agar memiliki karakter yang positif.


id.wikipedia.org/wiki/Guru diakses tanggal 5 Oktober 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar